Tiada kata yang mampu menggambarkan rasa. Aksara hanya mengeja dan hati yang berbicara. Malam selalu menjadi teman terbaik untuk jiwa yang hilang dalam pelik. Entah di masa kecilnya, di masa tumbuhnya, di masa pijaknya, hingga di masa yang ia sendiri tak bisa merabanya. Kesunyian menjadi melodi paling indah yang ia dengar. Cahaya kecil menjadi yang paling terang dalam kegelapan malam yang kini menyelimutinya. Blue print yang hadir bergantian. Menderetkan segala ceritanya. Memanggil memori-memori yang telah dikuburnya lama. Pedih jika di rasa. Ingin mati jika mengingatnya. Sesak dada tertahan nafas menghela. Yang ada hanya hembusan rintih dan tetes air mata.
Ia yang selama ini bersembunyi di balik kesunyian. Ia yang selama ini bersembunyi dibalik gelap malam. Tiada kata tiada rasa hanya rasa sedih yang terus mengganggu saja. Memori yang tak kunjung henti ia kubur setiap hari. Makin menampak ke tepi-tepi. Menghabisi hati yang kian rintih. Tak semua orang beruntung bisa bebas berbagi. Tak semua orang beruntung berkeluh kesah setiap hari. Tak semua beruntung menemukan yang sejati. Ia yang lelakunya hanya menepi. Senantiasa dikucilkan karena senang sendiri. Ia yang ingin dihargai senantiasa dijauhkan karena berdiam diri. Ia yang rindu akan tawanya sendiri. Ia yang lupa bagaimana rasa peluk untuk sebuah kekuatan. Ia yang selalu mencari jalan meski harus merangkak perlahan. Ia yang jalannya tertatih-tatih dengan luka di kedua kakinya. Ia yang merasa patah sekujur tubuhnya. Selalu mencoba berdiri meski untuk sedetik saja.


0 Komentar