Advertisement

Main Ad

Mengalah dan Mengalih

 


Apa akan menjadi pengecut jika aku memilih mengalah? Bukankah tiada guna menegangkan otot hanya untuk membalas gonggongan anjing belaka? Dia tidak paham kita dan kita pun tak paham dia. Jadi apa salahnya mengalah dan mengalih. 

Bukankah itu yang diinginkan setiap orang dari setiap perdebatan panjang? Ada yang perlu untuk dikalahkan agar dia menang. Menginjak yang tak berdaya demi egoisme diri semata. 

Maka benar temanku pernah berkata bahwa ia selalu menunggu karyaku untuk mengenal diriku. Sebab pada kenyataan mereka sulit menjamah pribadiku dan dengan tulisan-tulisan ini perlahan mereka mulai mampu membuka kelambu itu.

Aku mulai terbuka dengan dunia sejak aku berselimut kata. Sejak aku menyadari ketenangan frasa. Sejak aku menulis monolog dengan diri di catatan kecil.

Mengalah dari keadaan mungkin terlihat pengecut. Lari dari segala hal yang dianggap tak kunjung ada ujungnya. Tapi, dari mengalahlah aku belajar menemui sabar.

Kesabaran memang berat. Bahkan juga penat. Tapi buah dari kesabaran lah yang melatih kita untuk jauh lebih kuat.

Dari setiap perdebatan panjang, aku hanya bisa diam. Entah ku dengar atau tidak yang jelas aku hanya diam. Menenangkan mereka yang melukis lara dengan kebisuan diri tepat di depan mata mereka.

Hingga kepenatan hadir dan aku mencoba untuk pergi, ngalih. Menenangkan diriku dan menenangkan mereka. Memberi waktu untukku dan memberi waktu yang lainnya.

Itulah kenapa aku mencintai Jogja. Meski tiada satu pun sanak keluarga ada di sana, tapi di sanalah aku merasa pulang. Ya, sebab di sana aku bisa menemui diriku sendiri.

Menemui kesunyian. Menyelami ketenangan. Bersenang-senang dengan kegelapan. Meski terkadang harus ada periode air mata, setidaknya itu cukup melegakan selayaknya obat penenang.

Mengalah tak menjadikan kita kalah. Quote yang sering mampir ke telinga kita. Tapi, memang benar begitu adanya. Bahwa kadang kemenangan adalah kemampuan untuk menahan nafsu diri atas kemenangan yang diinginkan angan. Dan kekalahan adalah ketamakan atas diri yang harus selalu berada pada kemenangan. Namun, itu hanya menurutku, jika kalimatku salah juga tak masalah.

Mengalih juga tidak ada salahnya. Kadang kita juga perlu berjarak dengan keadaan yang membuat kita sesak bernafas. Tiada salahnya kita berdialog dengan diri menemui titik permasalahan. Mencoba mencari solusi dengan berkali-kali refleksi. 

Dengan berjarak, bukankah kita lebih bisa melihat segalanya lebih jelas. Jika terlalu jauh atau telalu dekat juga tak terlihat bukan? Makanya, perlu jarak. Jarak yang proporsional, yang sesuai, yang pas, yang bisa membuat kita bisa melihat segalanya jauh lebih mudah.

Kadang kita baru menyadari kehadiran setelah merasa kehilangan. Kadang kita baru bisa menghargai kebersamaan setelah merasa pahitnya perpisahan. Tapi, jangan sampai kita baru menyadari nikmatnya hidup setelah dimatikan oleh-Nya. Sebab setelah kematian kita tak bisa kembali pada hidup dan memperbaiki segalanya.

Sebab itu, jika waktu menggiring kita dalam masalah maka cepat lah untuk belajar. Jika harus mengalah, maka mengalahlah dengan lapang dada. Tanpa selubung hati ingin dianggap lebih baik atau sebagainya. Jika harus mengalih, maka mengalihlah dengan bijaksana. Mengalih bukan tentang pergi ke tempat sejauh yang kita ingin. Tapi, tentang memberi jarak untuk belajar dari setiap masalah yang membuat kita dalam ruang kepenatan.


Posting Komentar

1 Komentar